SEKILAS INFO
: - Senin, 30-01-2023
  • 1 tahun yang lalu / Ujian Sekolah tinggal menghitung hari, pergunakan waktumu sebaik mungkin untuk belajar.      
  • 1 tahun yang lalu / Bulan Ramdhan tinggal menghitung hari, mari sucikan diri dan hati memohon ridho Ilahi

Coronavirus disease 2019—selanjutnya disingkat COVID-19—yang melanda bangsa Indonesia bahkan juga bangsa lain di berbagai belahan dunia, telah membawa dampak buruk pada banyak sektor kehidupan. Bukan saja di bidang ekonomi, penyakit yang mewabah sejak Maret 2020, ini juga relatif jamak mengubah tatanan sosial dan budaya masyarakat.

Pemberlakuan tatanan kehidupan baru (new normal) yang diputuskan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas Rabu, 27 Mei 2020, juga masih membuat pola kehidupan yang belum kondusif. Protokol kesehatan berupa jaga jarak, mengenakan masker, mencuci tangan, dan tidak berkerumun dalam jumlah banyak, masih berdampak besar bagi institusi yang melibatkan orang banyak, di antaranya sektor pendidikan, khususnya sekolah pertama (SMP).

Larangan berkerumun membuat hampir semua sekolah  harus melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebab, berdasarkan Surat Edaran Kemendikbud No. 36962/MPK.A/HK/2020, tanggal 17 Maret 2020, antara guru dan siswa tidak boleh bertatap muka langsung. Transfer ilmu dan keterampilan harus dilakukan secara virtual melalui jaringan internet dalam jaringan (daring).

Meskipun para guru dan siswa relatif bersahabat dengan internet, faktanya itu masih sebatas pada jejaring sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Pembelajaran secara virtual—yang di dalamnya mencakup pencatatan kehadiran, penyampaian materi pembelajaran, aktivitas belajar, pemberian tugas, sekaligus penilaian tugas belajar, bukan saja merupakan hal baru tetapi sekaligus juga persoalan baru bagi keduanya.

Bahkan, disaat para guru dan siswa sama-sama belajar menyesuaikan diri terhadap pembelajaran online, muncul lagi persoalan yang diakibatkan dari kekurangsiapan sumberdaya pendukung seperti kualitas perangkat pembelajaran (laptop ataupun android), ketersediaan dan stabilitas jaringan, dan keterbatasan keuangan untuk membeli voucher.

Akibatnya, pembelajaran daring menjadi kurang optimal. Tingkat partisipasi aktif siswa kurang maksimal. Tak punya kuota, tak ada jaringan atau jaringan tidak stabil, loading android yang lama atau lemot, acap dijadikan siswa sebagai alasan untuk absen atau mengabaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

Kendala ekstrinsik ini, relatif tidak terjadi pada pembelajaran tatap muka langsung. Kedisiplinan siswa juga teruji dan terukur karena partisipasi mereka dalam pembelajaran sangat terikat oleh ruang dan waktu.

Adalah tidak wajar ketika guru tidak bisa mamahami sekaligus memaklumi kendala tersebut. Namun, ketika kondisi yang demikian berkelanjutan, siswa yang terkendala itu akan menjadi semakin nyaman dengan permakluman tadi. Mereka hanya akan mengikuti pembelajaran ketika kendala dimaksud benar-benar teratasi.

Bahkan, permakluman yang berkelanjutan itu juga sangat berpotensi membuat siswa menjadi malas belajar. Mereka hanya akan mengikuti pembelajaran daring ketika ingat, bahkan ketika sempat.

Dan ketika permakluman ini menyangkut siswa banyak, tidak menutup kemungkinan siswa yang sebenarnya memiliki android memadai, kuota cukup, dan berada pada jaringan stabil, iri. Mereka kemudian ikut-ikutan sering absen dengan alasan yang sama. Guru yang tidak tahu persis kondisi satu persatu siswannya, pun tidak akan mampu berbuat banyak atas hal itu.

Lalu apa yang siswa perbuat ketika tidak mengikuti pembelajaran daring? Survei penulis yang dilakukan secara acak pada sejumlah siswa,  mereka hanyalah bermain dan bermain. Kalau masih punya kuota, mereka bisa bermain sendiri melalui vitur game yang tersedia di androidnya. Jika tidak, mereka bermain—terutama keluyuran—bersama sejumlah temannya.

Orang tua—yang kebanyakan bertani atau buruh—tidak bisa memantau partisipasi siswa dalam pembelajaran daring. Keengganan sekaligus gagap teknologi informasi, membuat orang tua tidak tahu persis apakah anaknya benar-benar sedang belajar atau membuka vitur yang tak ada kaitannya dengan pembelajaran. Apalagi, orang tua yang selama pandemi ini waktu dan tenaganya tersita untuk mencari menafkahi keluarga, yang semakin hari semakin sulit.

Bagi guru, selain disibukkan dengan pembelajaran daring, mereka umumnya juga masih harus memantau sekaligus membimbing anak-anaknya, yang juga belajar secara virtual. Materi pelajaran siswa yang lama tidak dipelajari lagi sekaligus juga bukan kompetensinya, membuat orang tua yang pendidik harus belajar lagi untuk memaksimalkan hasil belajar anaknya.

Para pendidik pun menjadi hampir tidak sempat lagi meluangkan waktunya, untuk memantau perkembangan spiritual maupun emosional siswanya di luar jam belajar. Apalagi, ketika guru berkeyakinan selama pandemi para siswa akan lebih banyak didampingi orang tuanya.

Alhasil, para siswa yang lemah hingga tidak punya semangat mengikuti pembelajaran daring, menjadi nyaris tanpa kontrol, tanpa kendali—bukan saja dalam dalam hal belajar, lebih lagi salama mereka menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman-temannya di luar rumah.

Pembelajaran daring yang diharapkan bisa menjadi solusi alternatif bagi kelangsungan proses pembelajaran bagi para siswa, akibatnya justru bisa jadi bumerang. Keterbatasan sumberdaya pembelajaran yang didukung dengan permakluman atas hal itu, gagap teknologi informasi, serta lemahnya kontrol hingga pembiaran, akan membuat siswa tumbuh secara liar.

Siswa malas yang dipicu keterbatasan sumberdaya pembelajaran, bisa jadi akan memilih keluyuran bersama teman-teman senasib. Dan ketika mereka bosan dengan kebiasaan sebelumnya, hal-hal baru dalam bermain pun terus dicari dan diupayakan. Tanpa bimbingan dan kontrol, siswa berpotensi berperilaku menyimpang, seperti pergaulan bebas, mengonsumi narkoba, hingga tindak vandal dan kriminal.

Sebaliknya siswa malas tetapi memiliki sumberdaya pembelajaran yang memadai, bisa saja hanya berpura-pura belajar.  Meskipun tampak tekun belajar, bisa saja sebenarnya dia sedang asyik bermedia sosial dengan sesamanya, bermain permainan virtual  (game online), bahkan hingga judi online. Atau mungkin saja siswa itu tengah “khusyuk” dengan gambar bahkan film yang tidak patut ditonton, seperti pornografi dan pornokasi.

Potensi ini akan semakin subur jika orang tua—yang masih sempat mengontrol bahkan cukup dengan memantau—dengan beragam alasan menganggap cukup hanya dengan menanyakan “sudah   daring?” atau “tugas sekolah sudah dikerjakan?” Sebab, mereka akan semakin asyik dan tidak bersedia melakukan apapun selain menggenggam android. Untuk mengelabui orang tua, mereka beralasan “Sedang mengerjakan tugas sekolah”.

Dalam jangka panjang, kebiasan-kebiasaan baru ini membuahkan perilaku-perilaku buruk seperti biasa berbohong, egois, tidak peduli dengan orang lain dan lingkungannya, malas beribadah, dan tak punya semangat meraih prestasi. Ini tentu sangat bertentangan dengan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mengamanatkan tujuan utama pendidikan bukan hanya menjadikan seseorang memiliki ilmu yang tinggi namun lebih utama lagi menciptakan insan yang berakhlak mulia.

Lalu bagaimana menyiasati agar pembelajaran jarak jauh dapat berjalan lancar tetapi perilaku siswa dapat relatif terus terpantau walau tanpa tatap muka? Terutama saat jam pembelajaran berlangsung.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diterapkan, untuk meminimalisasi  dampak negatif perilaku siswa pada pembelajaran jarak jauh:

  1. Pembelajaran daring dilaksanakan dengan metode pembelajaran sekaligus juga teknologi informasi yang variatif.

Ragam metode tidak hanya mampu mengatasi kejenuhan belajar siswa, akan tetapi juga mampu membuat siswa yang kesulitan menyerap pelajaran degan metode “A” terbantu dengan metode “B” atau “C”.

Dengan begitu, semua siswa—yang beragam kelebihan dan kekurangan—merasa sungguh-sungguh diperhatikan. Perhatian ini, akan memantik semangat belajar, walau dengan sumberdaya belajar terbatas.

Lebih lagi ketika hal itu didukung dengan keragaman variasi  teknologi infromasi. Cara ini, bukan saja akan mampu menghilangkan verbalisme akan tetapi juga sekaligus menunjukkan bahwa seorang guru benar-benar menguasai pembelajaran dan memahami perbedaan tingkat penguasaan teknologi siswa.

Karena itu, guru tidak boleh hanya menyuguhkan teks, akan tetapi juga diformat sedemikian rupa dalam power point (PTT), ilustrasi, animasi, hingga film edukatif. Media yang digunakan juga tidak sebatas WhatsApp, Facebook, tetapi juga Zoom atau Google Meet.

  1. Mengemas salam pembuka agar menyentuh emosi siswa, terkesan ramah dan menyenangkan.

Sebelum memberikan materi pelajaran guru hendaknya mengawali dengan—tidak hanya mengabsensi—menyapa para siswa. Tanyakan kabar mereka (sehat atau sakit), termasuk persoalan pembelajaran, bahkan—agar tampak lebih dekat dengan mereka—tanyakan kabar orang tuanya.

Tunggulah jawaban mereka. Lalu, sedapat mungkin responlah hal itu. Kalau berupa persoalan berikan jalan keluar dan kalau kesedihan hiburlah walau sebentar. Sapaan itu bisa menimbulkan kerinduan pada pembelajaran berikutnya. Sebab, mereka merasa benar-benar    mendapat perhatian dari guru.

Setelah itu, tanyakan kondisi siswa guna memastikan kesiapan mengikuti proses belajar mengajar.

  1. Berikanlah motivasi, bukan saja pada awal, tetapi juga selama proses bahkan diakhir pembelajaran. Jangan sekadar formalitas, doronglah mereka untuk tetap semangat meskipun dalam suasana sulit akibat pandemi. Yakinkan bahwa masa depan mereka akan lebih baik dengan optimis dan terus belajar, dibanding terus mengeluh sehingga pesimis dan malas belajar.

Pompalah mereka agar senantiasa menghiasi diri dengan rajin beribadah, tanggungjawab, jujur, dan suka menolong. Sebab, pribadi seperti itulah yang dicari dan dibutuhkan siapapun sehingga akan memudahkannya dalam meraih cita-cita. Agar semakin yakin, cuplikkan kisah teladan dan kata-kata bijak tokoh-tokoh agama, nasional ataupun internasional.

  1. Orang tua harus meningkatkan penguasaan teknologi informasi. Hal itu, dimaksudkan untuk mengetahui apa saja yang siswa lakukan melalui androidnya. Lakukan kontrol tak terduga pada siswa, sehingga orang tua mengetahui apa yang sesungguhnya dilakukan anaknya saat jam pembelajaran berlangsung ataupun di luar jam pelajaran.
  2. Keterbatasan waktu, tenaga, bahkan juga biaya untuk mengontrol aktifitas siswa di luar rumah—terutama saat jam belajar—atasi dengan membuat tim pemantau antarorang tua atau wali. Di antara mereka secara bergilir dan berkala mencari dan mengunjungi tempat-tempat yang ditengarai digunakan untuk kegiatan negatif.

 

 

Referensi:

  1. Co, Jokowi Gelar Rapat Terbatas Persiapan New Normal, nasional.tempo.co/read/1346669/jokwi-gelar-rapat-terbatas-persiapan-new-normal, diakses Senin, 2 November 2020
  2. Surat Edaran Kementrian Pendidikan Nasional No. 36962/MPK.A/HK/2020, tanggal 17 Maret 2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19)
  3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  4. Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan Konseling Belajar di Sekolah, Usaha Nasional, Surabaya, 1983

2 komentar

Drs. Karsono, Kamis, 22 Apr 2021

Semoga PJJ segera berahir

Balas

Puranti Gombong, Kamis, 22 Apr 2021

aamiin

Balas

TINGGALKAN KOMENTAR

Daftar Guru

Video Terbaru